10 Kota Yang Paling Dibenci

Situs berita CNN meranking kota-kota yang paling dibenci di dunia dalam sebuah artikelnya. Jakarta, duduk dalam urutan ke tujuh setelah kota Lima, Peru. Dalam penjelasannya, CNN menyebut kota yang paling 'dibenci' bukan berarti yang terburuk.

TERBAIK dan TERBURUK: Irlandia 1-3 Kroasia

Laga yang tadinya diperkirakan akan memperagakan permainan defemsif dari Irlandia, berlangsung cukup seru dan menarik untuk disimak. Adalah gol cepat Mario Mandzukic saat pertandingan baru berjalan tiga menit.

Antonio Conte Saksikan Langsung Robin Van Persie, Robert Lewandowski dan Nicklas Bendtner

Pelatih Juventus Antonio Conte tampak duduk manis di tribun penonton menyaksikan dua laga Euro 2012, Sabtu (9/6). Kehadiran conte bukan tanpa alasan.

Inggris Dihantam Badai Cedera, Gerrard Tetap Optimistis

Donetsk – Di Euro 2012 ini, Inggris tak diperkuat oleh beberapa pemain pilarnya karena cedera. Meski demikian, Steven Gerrard tak kehilangan optimisme dan tetap yakin Inggris bisa berbicara banyak.

Mario Mandzukic: Gol Cepat Sangat Krusial

Mario Mandzukic menilai gol cepat yang dicetak oleh tim nasional Kroasia adalah gol yang paling krusial saat menghadapi Republik Irlandia dini hari tadi (11/6).

Jadwal Televisi Euro 2012

Jadwal TV tercantum dalam Waktu Indonesia Barat (WIB). Jadwal dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Jumat, 8 Juni21:00 Polandia vs YunaniSabtu, 9 Juni01:00 Rusia vs Ceko22:15.

Translate

Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juni 2012

Unsur-Unsur Intrinsik Puisi

1.    Diksi

Yaitu pilihan kata yang dipakai oleh penyair dalam mengungkapkan perasaan atau pikirannya. Beberapa kata yang memiliki kesamaan atau kemiripan arti oleh penyair belum tentu bisa dipakai semuanya, ia hanya akan memilih salah satu atau tidak semua untuk mewakili apa yang hendak ia ungkapkan. Pemilihan kata dalam puisi sangat penting. Hal ini berpengaruh pada keindahan, kedalaman dan kepadatan makna puisi tersebut.

Perhatikan contoh di bawah ini!

Matahari marah

Ulah manusia

Menghancurkan semesta

Larik puisi di atas menjadi lebih bagus, lebih indah, lebih menusuk maknanya ketika kita ubah pilihan katanya menjadi sebagai berikut.

Mentari nanar

Ulah manusia

Membinasa semesta

Kata matahari  diganti dengan kata mentari, yang artinya sama. Kata marah diganti dengan nanar. Kedua kata ini memiliki kesamaan arti. Nanar di antara artinya dalam KBBI adalah marah sekali (mata gelap). Kata menghancurkan diganti dengan kata membinasa, yang memiliki kemiripan arti. Setelah penggantian dilakukan terasa puisi lebih menggetarkan di hati.

Inilah pentingnya diksi/pilihan kata. Kemampuan memilih kata ini sangat diperlukan untuk menjadi seorang penyair yang sukses. Kemampuan ini  kuncinya adalah penguasaan kosa kata yang banyak oleh penulis.

Kata Berlambang

Salah satu gaya bahasa atau pilihan kata yang dipakai dalam puisi adalah kata berlambang. Kata berlambang maksudnya adalah memilih suatu lambang untuk menyatakan makna tertentu. Lambang di sini adalah benda, contohnya pohon, pisau, bunga, dan lain-lain.

Perhatikan contoh berikut.

Ibu mencintamu seperti mentari

Ibu mencintamu seperti lautan

Hangat dan dalam

Kata mentari dan lautan menjadi lambang bagi cinta ibu.

Api membara

Membakar desa

Menjalar

Membakar kota

Membakar apa yang ada

Api dari mulut berbisa

Kata api dipakai untuk menjadi lambang bagi kata-kata yang keluar dari mulut orang yang suka memfitnah dan mengadu domba.

2.    Suasana

Suasana adalah perasaan yang timbul pada pembaca ketika membaca sebuah puisi. Seperti apa suasana hati yang timbul ketika sebuah puisi itu dibaca oleh seseorang. Bisa jadi kita merasakan suasana hati yang menyesal, kecewa, sedih, gembira, semangat, dan lain-lain.

Perhatikan contoh berikut.

Lelah dan letih tak peduli

Asa terus membara

Ada masa yang dicita

Di balik gunung pendakian pasti ada mentari

Yang cahayanya menerangi

Langkah tak akan henti

Peluh keringat tabungan hari

Lautan ilmu hendak direnangi

Suasan hati kita membaca puisi di atas adalah kita menjadi ikut bersemangat. Puisi di atas menggambarkan betapa bersemangatnya seseorang dalam menuntut ilmu.

Maksud Isi Puisi

Menggali makna puisi bukan pekerjaan mudah memang. Mencoba menentukan apa maksud sebenarnya di balik berbagai pilihan kata penulis puisi membutuhkan wawasan yang luas tentang berbagai hal, hati yang peka, dan lebih mantap lagi jika si pengulas juga seorang yang punya banyak jam terbang dalam menulis puisi.

Menafsirkan dengan pas maksud puisi tentu tidak bisa. Yang paling mungkin adalah mendekati maksud sebenarnya. Tentu terbuka penafsiran lain bagi yang juga ingin menafsirkan puisi yang sama.

Berikut penulis akan mencoba menafsirkan beberapa puisi dari penulis terkenal yang puisinya mungkin sudah kita kenal dan hafal. Terbuka kritik dan saran untuk penafsiran yang penulis. Yang mau bersama-sama membuat penafsiran, tentu itu yang lebih baik.

Jalan Segara

Karya Taufiq Ismail

Di sinilah penembakan
Kepengecutan
Dilakukan

Ketika pawai bergerak
Dalam panas matahari

Dan pelor pembayar pajak
Negeri ini

Ditembuskan ke punggung
Anak-anaknya sendiri

1966

Jalan Segara menceritakan tentang kegiatan demonstrasi (mahasiswa). Segara artinya lautan. Seakan jalan raya telah dipenuhi lautan manusia yang berdemonstrasi menyampaikan keluhan-keluhannya kepada pemerintah yang zalim. Lalu pemerintah yang berkuasa menunjukkan kehebatan dan besarnya kekuatan mereka dengan menembak para demonstran itu. Tempat penembakan itu adalah di jalan, tempat di mana mereka berdemonstrasi. Tindakan zalim ini adalah sebuah bukti sikap pengecut penguasa. Mereka takut mengakui kesalahan dan bersikukuh dengan kekuasaannya walau harus menembak orang-orang yang hanya bersenjata suara dan hati nurani.

Dan pelor membayar pajak negeri ini.

Maksudnya adalah rakyat dengan segala kemiskinannya tak sanggup lagi menopang hidup keluarganya, apalagi membayar pajak. Kematian akhirnya menjadi harga yang pantas untuk melunasi pajak-pajak yang semestinya dibayar rakyat tersebut. Peluru yang ditembuskan ke dada mereka melunasi seluruh pajak yang semestinya mereka tanggungkan. Peluru itu ditembakkan penguasa saat demonstrasi dilakukan.

Larik ini adalah sebuah ejekan yang sangat pahit kepada para penguasa tentang betapa zalimnya penguasa saat itu.

Ditembuskan ke punggung anak-anaknya sendiri.

Semestinya penguasa menjadi pelindung rakyatnya, sebagaimana seorang ayah melindungi anak-anaknya. Yang terjadi adalah penguasa membunuh rakyatnya sendiri.

DERAI DERAI CEMARA

    Karya Chairil Anwar

Cemara menderai sampai jauh

terasa hari akan jadi malam

ada beberapa dahan di tingkap merapuh

dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan

sudah berapa waktu bukan kanak lagi

tapi dulu memang ada suatu bahan

yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan

tambah terasing dari cinta sekolah rendah

dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan

sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949

Ketika membaca puisi ini, jiwa terasa langsung melayang, mengalun dalam suatu suasana yang lembut, indah, syahdu, tapi sayu.

Bait pertama puisi ini menjadikan suasana alam yang tampak oleh penyair sebagai perwakilan bagi apa yang saat itu ia rasakan. Secara keseluruhan puisi  ini menggambarkan perasaan Chiril yang merasa dirinya lebih tenang, lebih dewasa, lebih bisa merasakan makna kehidupan

Aku sekarang orangnya bisa tahan/sudah berapa waktu bukan kanak lagi/tapi dulu memang ada suatu bahan/ yang bukan dasar perhitungan kini.

Si Aku sekarang sudah bisa tahan berhadapan dengan bala dan warna-warni dunia. Daya tahan yang baru bisa dimiliki setelah melewati masa yang berat sebagai orang-orang yang belum berpengalaman. Pengalaman yang pahit, berat, dan panjanglah yang membuat orang bisa menjadi arif dan punya daya tahan terhadap ragam warna dunia. Si Aku sudah dewasa.

Hidup hanya menunda kekalahan/tambah terasing dari cinta sekolah rendah/dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Akhir hidup ternyata sebuah kekalahan: kalah oleh ajal, kalah oleh nasib, kalah oleh takdir, kalah oleh waktu. Banyak hal yang tetap tak bisa diucapkan karena orang lain tak bisa memahaminya, atau ia merupakan rahasia pribadi, atau ia memang lebih baik untuk tidak didengar orang lain.

Gajah yang Sombong dan Burung Kubara

Seekor burung kubara

menjadikan tempat bersarangnya burung unta di tengah

padang pasir sebagai tempat untuk bersarang. Ia bertelur dan menetaskan anak-anaknya di tempat itu yang juga menjadi jalur pergi dan pulang gajah untuk mencari

minum. Suatu ketika, seperti biasanya, gajah melintasi jalur

itu. Kemudian kakinya menginjak sarang burung kubara

dan meremukkan seluruh isi sarangnya, sehingga telurnya

pecah dan seluruh anak burung mati.

Ketika ia melihat keburukan yang menimpa dirinya,

ia tahu bahwa musibah itu datangnya tidak lain kecuali

dari gajah yang melintasi tempat tersebut, dan bukan

makhluk lain. Kemudian ia terbang dan hinggap di kepala

gajah sambil menangis dan mengatakan, "Wahai sang

raja, mengapa engkau meremukkan telurku dan membunuh

anak-anakku, sedangkan aku bertetangga dekat denganmu?

Apakah engkau melakukan ini karena punya niat

meremehkan perkaraku dan memandang rendah diriku?"

"Itulah yang mendorongku untuk melakukannya,"

kata gajah menjawabnya enteng.

Akhirnya si burung kecil ini pulang dan pergi menemui

golongan burung. Ia mengeluhkan musibah yang didapatkan

dari seekor gajah. Kemudian burung-burung itu mengatakan

kepadanya, "Tidak mungkin kita bisa berbuat

apa-apa kepadanya, sebab kita hanya kaum burung."

Kemudian si burung ini pergi menemui burung gagak

dan elang, serta berkata kepadanya, "Aku menginginkanmu

bisa membantuku pergi menemui gajah untuk matanya

agar tidak bisa melihat. Setelah itu aku akan melakukan

tipu muslihat lain."

Kemudian mereka mengabulkannya, dan pergi bersama

menemui gajah. Mereka terus mematuki mata gajah

hingga terluka dan kedua matanya tidak bisa melihat. Si

gajah yang dipatuk matanya tidak bisa menemukan jalan

ketika ia harus pergi mencari makan dan minum kecuali

yang bisa diraba-raba dan dikira-kira.

Ketika si burung yang pernah dirusak sarang dan diinjak

anaknya ini mengetahui kondisi gajah yang tidak bisa

melihat, ia pergi ke aliran anak sungai kecil yang banyak

dihuni katak. Ia mengeluh kepada golongan katak tentang

musibah yang pernah diterimanya dari perlakuan gajah.

Kemudian para katak bertanya, "Lalu apa cara dan

tipu muslihat kita terhadap gajah yang tubuhnya besar, sedangkan

kita makhluk kecil? Bagaimana kita bisa mencapainya?"

"Aku lebih senang bila kalian ikut aku pergi ke jurang

dekattempat gajah. Kemudian di sana kalian bersuara dengan

ramai. Ketika gajah itu mendengar suara kalian, ia

yakin dan tidak bakal ragu-ragu, bahwa tempat itu berair.

Kemudian ia akan pergi dan tercebur di jurang tersebut,"

kata si burung kubara menjelaskan idenya.

Kemudian mereka mengabulkan permintaannya dan

berkumpul di suatu jurang dekat tempat gajah. Mereka

beramai-ramai mengeraskan suaranya. Kemudian gajah

mendengar suara katak yang ramai. Ia sangat kehausan.

Dengan yakin dan percaya diri ia pergi mencari sumber

suara tersebut, karena ia mengira banyak airnya. Dia berjalan

meraba-raba dan akhirnya terperosok ke dalam jurang

yang mengakibatkan patah tulang.

Burung kubara pergi melihat gajah yang masuk ke dalam

jurang dengan mengibas-ngibaskan ekor dan sayapnya

di atas kepala gajah dengan mengatakan, "Wahai

makhluk yang zalim dan tertipu oleh kekuatannya sendiri!

Engkau telah meremehkan perkaraku karena melihat dirimu

sangat besar. Lalu bagaimana engkau tidak melihat

besarnya taktik dan tipu muslihatku sekalipun tubuhku sangat

kecil bila dibanding dengan tubuhmu dan kecilnya

semangatmu."

Sumber : Hikayat Kalilah dan Dimnah

Pantun

Pantun
A.    Pengertian

     Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (2002), pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap-tiap (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b), tiap-tiap lariknya terdiri atas empat kata, baris pertama dan keduanya untuk tumpuan (sampiran) dan baris ketiga dan keempat merupakan isi.

B.  Ciri-Ciri Pantun

a. terdiri atas 4 baris;
b. tiap baris terdiri atas 8 sampai dengan 10 suku  kata;
c. baris pertama dan ke-2 disebut sampiran,  sedangkan baris ke-3 dan ke-4 merupakan isi atau

    makna pantun;
d. sajak akhir /a-b-a-b/.

B.    Menulis Pantun

Hal yang mesti diperhatikan dalam menulis pantun adalah rima akhir, pilihan kata, dan logika  sampiran. Rima akhirnya haruslah ab-ab, pilihan kata yakni harus memilih kalimat dengan kata-kata yang enak didengar. Logika maksudnya adalah pada sampiran, larik pertama dan kedua harus saling berkaitan. Hal ini yang sekarang diabaikan para penulis pantun. Mereka asal-asalan saja, yang penting untuk baris pertama dan kedua ini nanti bisa mengantarkan kepada baris ketiga dan keempat.

Perhatikan contoh berikut!

Memandang langit ke ufuk barat

Tampak Sang mentari bersinar redup

Masa telah mendekat kiamat

Banyaklah mengumpul bekal dalam hidup

Contoh di atas adalah contoh pantun yang baik dan benar. Sampiran pertama dan kedua saling berkaitan. Secara keseluruhan pantun tersebut sudah memenuhi kriteria.

Perhatikan contoh berikut!

Angin malam meniup pucuk cemara

Burung merpati bertelur di kandangnya

Mengapa Tuan berani berkata cinta

Sedang lamaran masih ditahan-tahan saja

Pantun di atas kurang baik, atau tidak benar. Sampiran pertama dan kedua tidak berkaitan.

Selasa, 05 Juni 2012

Paragaf deskripsi

Paragaf deskripsi adalah paragraf yang menggambarkan sesuatu dengan detail. Pembaca seakan melihat sendiri apa yang digambarkan penulis dalam tulisannya.
Perhatikan contoh berikut!
1.           Amin seorang pemuda yang tegap. Badannya tinggi semampai, padat, berotot. Rambut hitam lebat. Wajah persegi, menampakkan wataknya yang keras. Bahu lebar, kekar. Amin sanggup mengangkat beban yang empat kali lebih berat dari tubuhnya.
2.           Kampungku termasuk daerah aman tsunami. Bukit yang cukup tinggi mengelilingi kampungku dari berbagai sisi. Letaknya juga agak jauh dari laut. Anda harus mengambil angkot jurusan Jati-Siteba, lalu berhenti di simpang jalan ke Rumah Sakit Ibnu Sina. Jalanlah lurus hingga ujung jalan. Sesampai di kompleks perumahan beloklah ke kiri. Kampungku bersebelahan dengan kompleks perumahan itu.
3.           Aulia tampak marah sekali. Matanya merah, wajahnya mengkerut. Wajahnya juga memerah menahan gejolak hatinya. Ia menggigit kuat gerahamnya dan tangannya tergenggam menegang. Sebentar lagi kata-kata yang setajam sembilu akan menyembur seperti api dari  mulutnya.










   

Paragraf narasi

Paragraf narasi adalah paragraf yang mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa (nyata/khayalan).
Contoh:
1.           Aku kejar sekuat tenaga. Ternyata kecepatan larinya jauh melebihiku.  Ular kobra itu berlari ke arah pokok kayu lapuk. Dengan cepat ia menyelinap dan menghilang. Aku mencoba menggali dengan ujung tongkat yang aku pakai, tapi tak ada tanda-tanda keberadaannya.
2.           Negeri ini terletak di atas sebuah gunung yang tinggi. Semua rumahnya berada di atas pohon-pohon tua yang telah berumur ratusan tahun. Pohon itu sedemikian besar dan tingginya sehingga mustahil orang biasa bisa memanjatnya. Tapi, bagi penduduk Sahila, memanjat adalah seperti minum seteguk air bagi mereka.

Paragraf sebab akibat

Paragraf sebab akibat adalah paragraf yang didahului kalimat-kalimat yang menyatakan sebab dan diakhiri dengan kalimat yang  merupakan akibat.
Contoh:
1.           (1)Asti tak punya rem pada mulutnya. (2)Lepas apa saja yang mau ia ucapkan. (3)Padanya tidak berlaku pepatah bijak yang mengatakan pikir dulu sebelum bicara.  (4)Apa saja disebut olehnya. (5)Ia tak peduli itu aib dirinya atau aib orang lain.  (6)Asti  dibenci oleh orang  banyak.
Kalimat (1) sampai dengan (5) menyatakan sebab, dan kalimat (6) menyatakan akibat.
2.           Semangat belajar Yura menggebu-gebu. Ia hampir tak mengenal jenuh dan lelah dalam belajar. Semua tugas sekolah ia kerjakan dengan sempurna. Semua buku wajib ia telah tamatkan sebelum  dibahas. Ia pun melahap bacaan apa saja yang  bisa menambah pengetahuan dan wawasannya. Yura memiliki prestasi akademis yang bagus dan wawasan yang luas.

Paragraf Sebab Akibat

Paragraf sebab akibat adalah paragraf yang didahului kalimat-kalimat yang menyatakan sebab dan diakhiri dengan kalimat yang  merupakan akibat.

Contoh:

1.           (1)Asti tak punya rem pada mulutnya. (2)Lepas apa saja yang mau ia ucapkan. (3)Padanya tidak berlaku pepatah bijak yang mengatakan pikir dulu sebelum bicara.  (4)Apa saja disebut olehnya. (5)Ia tak peduli itu aib dirinya atau aib orang lain.  (6)Asti  dibenci oleh orang  banyak.

Kalimat (1) sampai dengan (5) menyatakan sebab, dan kalimat (6) menyatakan akibat.

2.           Semangat belajar Yura menggebu-gebu. Ia hampir tak mengenal jenuh dan lelah dalam belajar. Semua tugas sekolah ia kerjakan dengan sempurna. Semua buku wajib ia telah tamatkan sebelum  dibahas. Ia pun melahap bacaan apa saja yang  bisa menambah pengetahuan dan wawasannya. Yura memiliki prestasi akademis yang bagus dan wawasan yang luas.


Generalisasi

Generalisasi adalah mengambil simpulan dari data paling banyak.
Contoh:
       Desa Ades kekurangan air. Penduduk telah menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Desa tetangganya, Amun, lebih buruk lagi. Air seakan telah menghilang dari tanah desa mereka. Mereka mencari air ke tempat yang sangat jauh. Desa Jiok sama kondisinya dengan dua desa sebelumnya. Hanya satu desa di Kecamatan Abol yang masih mendingan, yaitu Desa Bulai. Di Desa Bulai penduduk telah lama menggali tanah hingga kedalaman seratus meter sehingga stok air masih ada, tetapi harus berhemat. Jadi, desa-desa di Kecamatan Abol sangat kekurangan air bersih.
Kalimat berhuruf miring adalah kalimat simpulan generalisasi dari paragraf tersebut.
       Perlu diperhatikan, jika soal pilihan ganda, soal tentang simpulan paragraf generalisasi ini, jawabannya bukanlah pernyataan yang diambil dari keadaan yang sedikit, sekalipun pernyataannya benar.
Perhatikan contoh berikut.
       Hampir tiada hari tanpa salat tahajud bagi Pak Adi. Motivasinya adalah ia terus meminta kepada Allah agar anak-anaknya menjadi anak-anak yang saleh: taat beragama, berbakti kepada orang tua, dan berprestasi di sekolah. Bertahun, berpuluh tahun ia lakukan dengan penuh disiplin dan keikhlasan. Usaha Pak Adi berbuah. Anak pertama dan kedua menjadi pengusaha level internasional. Anak ketiga, keempat, dan kelima berprestasi di dunia akademis. Anak keenam hingga kedelapan sedang kuliah dengan biaya sendiri di berbagai perguruan tinggi ternama. Anak kesembilan memilih tetap bersama orang tuanya hingga akhir hayat. Ia mencukupkan pendidikan hingga SMA dan memilih bertani dengan berkonsentrasi pada merawat ayah dan ibunya di rumah.
Simpulan yang tepat untuk paragraf generalisasi di atas adalah….
A.    Anak-anak Pak Adi menjadi orang-orang yang sukses di bidangnya masing-masing.
B.    Ada satu orang anak Pak Adi yang tidak menekuni bidang profesional tertentu.
C.    Semua anak Pak Adi menjadi pengusaha-pengusaha ternama.
D.    Pak Adi telah berhasil mendidik anak-anaknya menjadi pemuka-pemuka agama.
E.     Anak-anak sangat berhasil ketika mendapat didikan langsung dari ayahnya.
Pernyataan yang terdapat dalam pilihan jawaban B adalah benar. Akan tetapi, B adalah jawaban yang salah, jawaban yang  benar adalah A.  Pernyataan B mengambil simpulan dari data yang sedikit, bukan pada data yang paling banyak.

Mengidentifikasi Konfiks dan Kombinasi Imbuhan

Konfiks adalah imbuhan tunggal yang terjadi dari perpaduan awalan
dan akhiran yang membentuk satu kesatuan. Dalam bahasa Indonesia,
terdapat lima macam konfiks antara lain ke-an, pe-an, per-an, se-nya, dan
ber-an.
Agar Anda lebih mengenal konfiks, perhatikan ciri-ciri konfiks berikut.
1. Awalan dan akhiran diletakkan pada bentuk dasar secara serentak
(tidak bertahap).
Contoh:
Para tamu sudah berdatangan.
Imbuhan ber- dan -an melekat secara serentak pada bentuk dasar
datang menjadi berdatangan. Jadi, tidak melekat secara bertahap, yaitu
ber- + datang menjadi berdatang, kemudian berakhiran -an menjadi
berdatangan atau datang + -an menjadi datangan, kemudian dilekatkan
ber- menjadi berdatangan. Prosesnya dapat digambarkan sebagai
berikut.
ber- + datang + -an
berdatangan
bukan: ber- + datang + -an atau ber- + datang + -an
berdatang datangan
berdatangan berdatangan
2. Konfiks menyatakan satu makna gramatikal.
Jika salah satu konfiks itu dipisah/dipenggal, penggalan itu bukan
merupakan kata yang bermakna.
Contoh:
Kata berdatangan memiliki makna perbuatan yang dilakukan
banyak pelaku . Jika kata tersebut dipenggal menjadi berdatang dan
-an atau ber- dan datangan, kata tersebut tidak memiliki makna.
Konfiks terdiri atas lima macam sebagai berikut.
1. Konfiks ke-an
Konfiks ke-an berfungsi membentuk kata benda konkret, kata
benda abstrak, kata kerja pasif, dan kata sifat.
Makna imbuhan ke-an sebagai berikut.
a) menyatakan sifat
Contoh:
Aku kagum akan keindahan senja di Pantai Kuta.
keindahan = bersifat indah
b) menyatakan makna dalam keadaan
Contoh:
Ia menggigil kedinginan.
kedinginan = dalam keadaan dingin
c) menyatakan perbuatan yang dilakukan secara tidak sengaja
Contoh:
Ia ketiduran di kursi belajarnya.
ketiduran = tidak sengaja tidur
d) menyatakan makna terlalu
Contoh:
Baju Anisa kebesaran.
kebesaran = terlalu besar
e) menyatakan makna agak atau menyerupai
Contoh:
Ia memang masih kekanak-kanakan.
kekanak-kanakan = menyerupai anak-anak
f) menyatakan tempat atau daerah
Contoh:
Kedutaan besar negara-negara sahabat ada di Jakarta.
kedutaan = tempat para duta besar
g) menyatakan dapat di . . . .
Contoh:
Gunung Semeru kelihatan dari Lumajang.
kelihatan = dapat dilihat
h) menyatakan yang di- . . .
Contoh:
Dito adalah cucu kesayangan kakeknya.
kesayangan = yang disayang
2. Konfiks pe-an
Konfiks pe-an memiliki alomorf yang berwujud pe-an, pem-an, penan,
peng-an, peny-an dan penge-an.
Konfiks pe-an berfungsi membentuk kata benda.
Makna imbuhan pe-an sebagai berikut.
a) menyatakan makna cara
Contoh:
Pengiriman barang ini dilakukan dengan paket kilat.
pengiriman = cara mengirim
b) menyatakan makna tempat
Contoh:
Kami sedang menuju pelabuhan Tanjung Perak.
pelabuhan = tempat berlabuh
c) menyatakan makna perihal
Contoh:
Pembuatan tahu ini dilakukan secara manual.
pembuatan = perihal membuat
d) menyatakan alat untuk me- . . .
Contoh:
Pendengaran nenek sudah lemah.
pendengaran = alat untuk mendengar
3. Konfik per-an
Bentuk per-an ada tiga macam, yaitu per-an, pe-an, dan pel-an.
Konfiks per-an berfungsi membentuk kata benda.
Makna imbuhan per-an sebagai berikut.
a) menyatakan makna cara
Contoh:
Jangan terperangkap dalam pergaulan bebas tanpa batas!
pergaulan = cara bergaul
b) menyatakan makna hasil
Contoh:
Persetujuan itu telah ditandatangani kedua belah pihak.
persetujuan = hasil setuju
c) menyatakan tempat
Contoh:
Pengembang dari Jakarta itu membuat permukiman di seputar
Godean.
permukiman = tempat bermukim
d) menyatakan makna kumpulan
Contoh:
Daerah pertokoan di Jalan Kenangan akan mengalami
penggusuran lagi.
pertokoan = kumpulan toko
e) menyatakan makna hal
Contoh:
Setiap tahun pertambahan penduduk mencapai hampir sepuluh
persen.
pertambahan = hal bertambah
4. Konfik ber-an
Bentuk konfiks ber-an ada dua macam, yaitu ber-an dan be-an.
Konfik ber-an berfungsi membentuk kata kerja.
Makna imbuhan ber-an sebagai berikut.
a) menyatakan makna saling
Contoh:
Mereka berpandangan ketika bertemu.
berpandangan = saling memandang
b) menyatakan makna perbuatan yang dilakukan oleh banyak
pelaku
Contoh:
Para peserta seminar berhamburan keluar ruangan.
berhamburan = bersama-sama
c) menyatakan makna perbuatan yang dilakukan berulang-ulang
Contoh:
Air dari ember itu bertetesan di lantai.
bertetesan = berulang-ulang menetes
5. Konfik se-nya
Konfik se-nya berfungsi membentuk kata keterangan dari kata sifat.
Makna imbuhan se-nya sebagai berikut.
a) menyatakan makna tingkat atau paling
Contoh:
Tunjukkan hasil yang sebaik-baiknya.
sebaik-baiknya = paling baik
b) menyatakan makna waktu atau setelah
Contoh:
Setibanya di rumah hari telah malam.
Selain bentuk konfiks terdapat imbuhan yang digunakan secara
bersamaan baik awalan maupun akhiran. Bentuk ini disebut kombinasi
imbuhan. Dalam konfiks proses pembentukan kata terjadi secara serentak
sedangkan proses pembentukan kata dengan kombinasi imbuhan terjadi
secara bertahap.
Contoh:
Proses pembentukan kata berpakaian melalui dua tahap,yaitu akhiran -an
dilekatkan pada kata dasar pakai menjadi pakaian. Kemudian, kata tersebut
dilekatkan awalan ber- menjadi berpakaian. Proses ini dapat digambarkan
sebagai berikut.
ber- + pakai + -an
pakaian (1)
berpakaian (2)
Macam-macam bentuk kombinasi imbuhan sebagai berikut.
1. Imbuhan memper-kan
Fungsi imbuhan memper-kan membentuk kata kerja intransitif.
Makna imbuhan memper-kan sebagai berikut.
a) menyatakan makna kausatif
Contoh:
Siapa yang mempertemukan sepasang kekasih itu?
mempertemukan = membuat jadi bertemu
b) menyangatkan atau intensitas
Contoh:
Mereka memperdengarkan lagu-lagu yang merdu.
memperdengarkan = berkali-kali mendengar
2. Imbuhan me-i
Fungsi imbuhan me-i membentuk kata kerja aktif.
Makna imbuhan me-i sebagai berikut.
a) menyatakan makna memberi
Contoh:
Tanti menyampuli bukunya dengan sampul plastik warna biru.
menyampuli = memberi sampul
b) menyatakan makna membuang
Contoh:
Pak Sarman menguliti kambing kurban.
menguliti = membuang kulit
c) menyatakan makna pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang
Contoh:
Siapa yang melempari burung-burung itu?
melempari = berulang-ulang melempar
d) menyatakan hal seperti yang tersebut pada kata dasar
Contoh:
Bu Wina, wali kelasku, memarahi kami karena tidak disiplin.
memarahi = menyatakan hal marah
e) menyatakan makna melakukan suatu pekerjaan
Contoh:
Kami menemani Fita pergi ke rumah pamannya.
menemani = melakukan pekerjaan sebagai teman
f) membuat jadi
Contoh:
Saya sedang memanasi makanan ketika lampu padam.
memanasi = membuat jadi panas
g) menyatakan makna intensitas
Contoh:
Polisi sedang menyelidiki kasus pembunuhan itu.
menyelidiki = melakukan penyelidikan
h) menyatakan makna arah atau tempat
Contoh:
Para peserta lomba sudah memasuki aula.
memasuki = masuk ke
3. Imbuhan gabung di-i
Fungsi imbuhan gabung di-i membentuk kata kerja pasif.
Makna imbuhan di-i sebagai berikut.
a) menyatakan makna diberi
Contoh:
Bukunya disampuli sampul plastik warna biru.
disampuli = diberi sampul
b) menyatakan makna dibuang
Contoh:
Kambing kurban dikuliti Pak Sarman.
dikuliti = dibuang kulitnya
c) menyatakan makna pekerjaan yang dilakukan berulang-ulang
Contoh:
Burung-burung itu dilempari batu.
dilempari = dilempar berulang-ulang
d) menyatakan hal seperti tersebut pada kata dasar
Contoh:
Kami dimarahi Bu Wina karena tidak disiplin.
dimarahi = menyatakan hal marah
e) membuat jadi
Contoh:
Makanan itu sedang dipanasi ketika lampu padam.
dipanasi = membuat jadi panas
f) menyatakan makna intensitas
Contoh:
Kasus pembunuhan itu sedang diselidiki polisi.
diselidiki = dilakukan penyelidikan
4. Imbuhan me-kan
Fungsi imbuhan me-kan membentuk kata kerja transitif, yaitu kata
kerja yang memerlukan objek.
Makna imbuhan me-kan sebagai berikut.
a) menyatakan makna kausatif
Contoh:
Niken menjatuhkan gelas.
menjatuhkan = membuat jatuh
b) menyatakan makna melakukan tindakan untuk orang lain atau
benefaktif
Contoh:
Rina membukakan pintu saat ayahnya datang.
membukakan = membuka untuk orang lain
c) menyatakan makna menuju ke
Contoh:
Pilot itu berhasil mendaratkan pesawatnya walaupun cuaca buruk.
mendaratkan = menuju ke darat
d) menganggap sebagai
Contoh:
Jangan mendewakan kekayaan dalam kehidupan di dunia ini!
mendewakan = menganggap sebagai dewa
5. Imbuhan di-kan
Fungsi imbuhan di-kan membentuk kata kerja bentuk pasif.
Makna imbuhan di-kan menyatakan makna kausatif .
Contoh:
Bulan ini gaji karyawan PT Dewa Perkasa dinaikkan sepuluh persen.
dinaikkan = dibuat menjadi naik
6. Imbuhan ber-kan
Fungsi imbuhan ber-kan membentuk kata kerja.
Makna imbuhan ber-kan sebagai berikut.
a) menyatakan makna memakai
Contoh:
Keputusan itu diambil berdasarkan kesepatan semua anggota.
berdasarkan = memakai dasar
b) berfungsi sebagai pemanis
Contoh:
Malam ini tempat keramaian itu bermandikan cahaya bulan.
7. Imbuhan diper-kan
Fungsi imbuhan diper-kan membentuk kata kerja pasif.
Makna imbuhan diper-kan sebagai berikut.
a) menyatakan makna kausatif
Contoh:
Astuti dan Hidayat dipertemukan oleh orang tua masing-masing.
dipertemukan = menyebabkan bertemu
b) menyatakan makna intensitas atau menyangatkan
Contoh:
Masalah kenaikan harga BBM ramai diperbincangkan.
diperbincangkan = berkali-kali dibicarakan
8. Imbuhan memper-i
Fungsi imbuhan memper-i membentuk kata kerja.
Makna imbuhan memper-i menyatakan makna membuat jadi atau
kausatif .
Contoh:
Bayu memperbaiki sepeda adiknya.
memperbaiki = membuat jadi baik
9. Imbuhan diper-i
Fungsi imbuhan diper-i membentuk kata kerja.
Makna imbuhan diper-i menyatakan makna kausatif atau membuat
jadi .
Contoh:
Sepeda adiknya diperbaiki Bayu.
diperbaiki = dibuat menjadi baik
Sumber: Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. M. Ramlan. 1987
(Cetakan ke-8). Yogyakarta: Karyono.

Jumat, 01 Juni 2012

JENIS-JENIS MEMBACA DAN KARAKTERISTIKNYA

Ditinjau dari segi terdengar atau tidaknya suara pembaca waktu melakukan kegiatan membaca, maka proses membaca dapat dibedakan menjadi :

A. Membaca Nyaring
Membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan menyuarakan tulisan yang dibacanya dengan ucapan dan intonasi yang tepat agar pendengar dan pembaca dapat menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis, baik yang berupa pikiran, perasaan, sikap, ataupun pengalaman penulis.

Ketrampilan yang dituntut dalam membaca nyaring adalah berbagai kemampuan, diantaranya adalah :
1. menggunakan ucapan yang tepat,
2. menggunakan frase yang tepat,
3. menggunakan intonasi suara yang wajar,
4. dalam posisi sikap yang baik,
5. menguasai tanda-tanda baca,
6. membaca dengan terang dan jelas,
7. membaca dengan penuh perasaan, ekspresif,
8. membaca dengan tidak terbata-bata,
9. mengerti serta memahami bahan bacaan yang dibacanya,
10. kecepatan bergantung pada bahan bacaan yang dibacanya,
11. membaca dengan tanpa terus-menerus melihat bahan bacaan,
12. membaca dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri.

B. Membaca Dalam Hati

Membaca dalam hati adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan tanpa menyuarakan isi bacaan yang dibacanya.
Ketrampilan yang dituntut dalam membaca dalam hati antara lain sebagai berikut:
1. membaca tanpa bersuara, tanpa bibir bergerak, tanpa ada desis apapun,
2. membaca tanpa ada gerakan-gerakan kepala,
3. membaca lebih cepat dibandingkan dengan membaca nyaring,
4. tanpa menggunakan jari atau alat lain sebagai penunjuk,
5. mengerti dan memahami bahan bacaan,
6. dituntut kecepatan mata dalam membaca,
7. membaca dengan pemahaman yang baik,
8. dapat menyesuaikan kecepatan dengan tingkat kesukaran yang terdapat dalam bacaan.

Secara garis besar, membaca dalam hati dapat dibedakan menjadi dua (I) membaca ekstensif dan (II) membaca intensif. Berikut penjelasan secara rinci kedua jenis membaca tersebut :

I. Membaca Ekstensif
membaca ekstensif adalah membaca secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Membaca ekstensif meliputi :

1. Membaca Survai (Survey Reading)
Membaca survai adalah kegiatan membaca untuk mengetahui secara sekilas terhadap bahan bacaan yang akan dibaca lebih mendalam. Kegiatan membaca survai merupakan pendahuluan dalam membaca ekstensif.
Yang dilakukan seseorang ketika membaca survai adalah sebagai berikut :
(a) memeriksa judul bacaan/buku, kata pengantar, daftar isi dan malihat abstrak(jika ada),
(b) memeriksa bagian terahkir dari isi (kesimpulan) jika ada,
(c) memeriksa indeks dan apendiks(jika ada).


2. Membaca Sekilas
Membaca sekilas atau membaca cepat adalah kegiatan membaca dengan mengandalakan kecepatan gerak mata dalam melihat dan memperhatikan bahan tertulis yang dibacanya dengan tujuan untuk mendapatkan informasi secara cepat.
Metode yang digunakan dalam melatihkan membaca cepat adalah :
(a) metode kosakata; metode yang berusaha untuk menambah kosakata.
(b) Metode motivasi; metode yang berusaha memotivasi pembaca(pemula) yang mengalami hambatan.
(c) Metode gerak mata; metode yang mengembangkan kecepatan membaca dengan menigkatkan kecepatan gerak mata.

Hambatan-hambatan yang dapat mengurangi kecepatan mambaca :
(a) vokalisai atau berguman ketika membaca,
(b) membaca dengan menggerakan bibir tetapi tidak bersuara,
(c) kepala bergerak searah tulisan yang dibaca,
(d) subvokalisasi; suara yang biasa ikut membaca di dalam pikiran kita,
(e) jari tangan selalu menunjuk tulisa yang sedang kit abaca,
(f) gerakan mata kembali pada kata-kata sebelumnya.

3. Membaca Dangkal (Superficial Reading)
membaca dangkal pada hakekatnya bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu bahan bacaan. Membaca jenis ini biasanya dilakukan seseorang membaca demi kesenangan, membaca bacaan ringan yang mendatangkan kesenangan, kegembiraan sebagai pengisi waktu senggang.

II. Membaca Intensif
membaca intensif atau intensive reading adalah membaca dengan penuh penghayatan untuk menyerap apa yang seharusnya kita kuasai. Yang termasuk dalam membaca intensif adalah :

A. Membaca Telaah Isi :
1. Membaca Teliti
Membaca jenis ini sama pentingnya dengan membaca sekilas, maka sering kali seseorang perlu membaca dengan teliti bahan-bahan yang disukai.
2. Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman (reading for understanding) adalah sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami tentang standar-standar atau norma-norma kesastraan (literary standards), resensi kritis (critical review), dan pola-pola fiksi (patterns of fiction).
3. Membaca Kritis
Membaca kritis adalah kegiatan membaca yang dilakukan secara bijakasana, mendalam, evaluatif, dengan tujuan untuk menemukan keseluruhan bahan bacaan, baik makna baris-baris, makna antar baris, maupun makna balik baris.
4. Membaca Ide
Membaca ide adalah sejenis kegiatan membaca yang ingin mencari, memperoleh, serta memanfaatkan ide-ide yang terdapat pada bacaan.

5. Membaca Kreatif
Membaca kreatif adalah kegiatan membaca yang tidak hanya sekedar menagkap makna tersurat, makna antar baris, tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kehidupan sehari-hari.

B. Membaca Telaah Bahasa :
1. Membaca Bahasa (Foreign Language Reading)
Tujuan utama membaca bahasa adalah memperbesar daya kata (increasing word power) dan mengembangkan kosakata (developing vocabulary)
2. Membaca Sastra (Literary Reading)
Dalam membaca sastra perhatian pembaca harus dipusatkan pada penggunaan bahasa dalam karya sastra. Apabila seseorang dapat mengenal serta mengerti seluk beluk bahasa dalam suatu karya sastra maka semakin mudah dia memahami isinya serta dapat membedakan antara bahasa ilmiah dan bahasa sastra.

naskah muhasabah sungkeman menjelang UN

Terima kasih ya Allah, Engkau telah berikan aku ayah dan ibuku. Terima kasih ya Allah, hingga hari ini aku masih bisa menatap wajahnya yang senantiasa dipenuhi kasih sayang dan kerinduan; masih bisa menatap matanya yang penuh cinta dan pengorbanan. Kabulkanlah doa-doa ayah dan ibu, yang tiada henti dan tiada lelah meminta agar anak-anaknya menjadi anak yang soleh, berbakti, dan menyenangkan hati. Jadikanlah ayah dan ibu kami penghuni surga-Mu. Sayangi ayah dan ibu kami sebagaimana mereka telah menyayangi kami sewaktu kami kecil.
ALLAHUMMAGHFIRLI WALIWALIDAYYA WARHAMHUMA KAMA RABBAYANI SOGHIROO.
Ayah, ibu,
Terimalah permintaan maaf anakmu. Sebanyak itu bukti kasih sayangmu kepada kami, sebanyak itu pula salah dan dosa kami pada ayah dan ibu.
-          Pandangan mata yang sinis, penuh kebencian, jika ada satu saja permintaan kami yang tidak engkau kabulkan.
-          Kata-kata yang tajam mengiris hati, untuk membalaskan kekesalan, melampiaskan kedongkolan kami kepadamu.
-          Kami tidak acuhkan permintaan tolongmu, suruhan-suruhanmu, nasihat-nasihatmu.
-          Caci maki dan doa-doa keburukan memenuhi dada kami  jika ada yang tidak kami senangi darimu.
Inikah balasan dari derita ibu mengandung dan melahirkan. Inikah balasan dari memberi makan, pakaian, merawat, membesarkan, dan menyekolahkan.
Andai diri ini tak pernah dilahirkan, mungkin lebih baik bagimu.
Ya Allah, balaslah tiap tetes air mata yang jatuh dari pipi ibu dengan permata-permata mulia di surga-Mu.
Ya Allah, timbanglah tiap tetesan keringat ayah dengan timbangan yang lebih berat dari bumi dan seluruh isinya.
Ampun ayah, ampun ibu,
Cukupkah air mata penyesalan ini sebagai tebusan dosa dan salah selama ini. Kami bersimpuh di pangkuanmu, menghinakan diri yang tak berarti. Biarlah kami binasa, hancur berkeping-keping menjadi debu, jika air mata dan permintaan maaf kami tidak mampu lagi melembutkan hati ayah dan ibu.
Ayah, ibu,
Ini kami, buah hati yang dulu senantiasa engkau timang, peluk, cium, dengan segenap kasih sayang. Masihkah bisa kami dapat dan rasakan mata air kasih sayang itu setelah semua salah dan dosa yang kami lakukan.
Ayah, ibu,
Hari ini penghuni langit, penghuni bumi, jadi saksi.
Ampuni kami ayah.
Ampuni kami ibu.
Ampuni semua salah dan dosa kami.
Terima kasih telah merawat, membesarkan, mendidik kami hingga hari ini. Ibu, relakan air susu yang telah kami minum. Ayah, relakan nasi yang telah kami makan.
Tetap doakan kami agar menjadi anak yang soleh, berguna, dan bisa merawat dan memberi kasih sayang jika ayah dan ibu telah tua nanti. DOAKAN KAMI SUKSES DALAM MENJALANI UJIAN NASIONAL.
Ya Allah, ampuni dosa ayah dan ibu, sebesar dan seberat apa pun dosa itu.
Ya Allah, selamatkan ayah dan ibu dari azab neraka, dan masukkan ke surga-Mu.
Ampunkan juga dosa-dosa guru-guru kami yang telah mendidik kami dengan sepenuh hati. Lapangkan riskinya, solehkan anak-anaknya.
KUMPULKAN KAMI SEMUA DI SURGA-MU KELAK.
AMIIN.
Anakku,
Buah hati belahan jantung. Obat letih pelerai demam. Sejak kecil engkau ditimang, diayun, didendangkan.
Sungguh besar harapan ayah dan ibu kalau engkau besar nanti, engkau akan menjadi anak yang soleh, santun pada orang tua, membawa kemaslahatan di mana pun engkau berada. Kami khawatir kalau harapan-harapan ini tidak terwujud. Dengan terpaksa, kadang kami marah untuk perbuatan-perbuatanmu yang tidak baik, kurang sopan, malas, dan sebagainya. Semoga kemarahan itu bisa mengingatkanmu akan kesalahanmu dan kauperbaiki.
Makin besar dirimu, makin kikis harapan-harapan itu. Wajah manis yang dulu senantiasa menggemaskan itu, berganti dengan wajah cemberut, penuh kesal dan amarah. Bola mata indah berbinar itu, sekarang tajam mengiris, menantang penuh perlawanan. Kata-kata ayah dan ibu seperti angin lalu, tidak engkau acuhkan. Apalagi kalau sampai ada permintaanmu yang tidak dikabulkan. Engkau marah, membanting pintu, tidak menegur, atau lari dari rumah.
Kebanggaan akan buah hati sibiran tulang tak kunjung datang. Malah yang datang surat peringatan dan surat panggilan dari sekolah berkenaan dengan ulahmu. Alangkah malu ibu pergi ke sekolah menemui gurumu. Berat, sangat berat terasa langkah-langkah kaki ini. Alangkah letih mengasuh dan membesarkan, alangkah perih hati oleh pembangkangan, dan alangkah malu  ayah ibu oleh ulahmu yang tidak terpuji. Hanya Allah yang Mahatahu, hanya kepada Allah seluruh harapan digantungkan.
Baiklah Nak. Mungkin dirimu senang jika ayah dan ibu mengakui kesalahan-kesalahan yang kami lakukan.
-          Ibu terlalu nyinyir, cerewet, dan sebagainya
-          Ibu marah jika engkau salah, tapi diam saja jika engkau benar atau melakukan kebaikan.
-          Ayah ibu kurang perhatian kepadamu, sibuk dengan urusan dan pekerjaan yang tiada habis-habisnya.
-          Ayah/ibu kadang merendahkan dirimu dengan membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain yang menurut kami pantas ditiru.
-          Ayah dan ibu lebih mendahulukan kemarahan daripada kelembutan dan kasih sayang dalam banyak hal dalam menghadapimu.
-          Ayah dan ibu belum mampu memberi teladan dalam berbuat kebaikan.
Silakan engkau tambah lagi daftar kesalahan ini sebanyak-banyaknya agar dirimu senang.
Asal dirimu bahagia, ayah dan ibu rela walau harus menyerahkan nyawa. Biarlah kami sakit asal engkau sehat; biarlah kami kelaparan asal engkau kenyang; biarlah kami kedinginan asal  dirimu berpakaian. Biarlah kami tanggungkan semua azab dan sengsara dunia fana  ini demi kebahagiaanmu.
Sungguh, ayah ibu ingin punya anak yang soleh. Yang rajin solat, mengaji. rajin belajar menuntut ilmu. Taat pada orang tua. Kami harap jika telah tua renta nanti, kami akan disayang, dirawat, dan diperhatikan. Setelah mati, doa-doa anak yang soleh bisa mengurangi beratnya azab kubur, bisa melapangkan sempitnya kubur.
Selagi ayah dan ibu mampu, dan itu baik bagimu, semua permintaanmu akan ayah ibu kabulkan. Semua salah dan dosamu pada ayah dan ibu kemarin, sekarang, dan esok sudah kami maafkan. Semoga engkau sukses dalam menjalani Ujian Nasional yabg sebentar lagi datang.
Bahagialah hidupmu hingga akhirat kelak.
Ya Allah, sayangi anak-anak kami.
Tuntunlah langkah-langkah mereka.
Teguhkan mereka dalam menghadapi godaan fitnah dunia yang menyesatkan dan menjerumuskan.
Jadikan anak-anak kami anak-anak yang soleh, ya Allah.
Basahkan lidah mereka dengan doa-doa kebaikan untuk ayah dan ibunya.
Kumpulkan kami di jannatun firdaus-Mu  kelak.
Amiin.

Unsur-Unsur Intrinsik Cerpen/Novel

Unsur intrinsik ialah unsur/bagian yang membentuk sebuah cerita (cerpen/novel). Unsur-unsur intrinsik tersebut adalah: tema, alur, penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.
A.  Penokohan
1.    Pengertian
       Penokohan sering juga disebut perwatakan, yaitu pelukisan mengenai tokoh cerita. Pelukisan ini mencakup keadaan lahir dan batin tokoh. Keadaan lahir merupakan bentuk jasad tokoh, keadaan batin mencakupi pandangan hidup tokoh, sikap tokoh, keyakinan, dan adat istiadat.
2.    Teknik Penokohan
       Dalam menggambarkan watak tokoh pengarang menggunakan dua cara yaitu (1)penggambaran langsung dan (2)penggambaran tidak langsung.
(1) Penggambaran Langsung
       Dikatakan penggambaran langsung karena penulis langsung menyatakan watak tokoh; pembaca tidak perlu lagi menafsirkan.
Contoh:
a.           Bangkuro lelaki yang tampan. Jejak ketampanannya tampak jelas menutupi garis-garis ketuaannya. Ia sangat disayangi rakyatnya. Di balik kekerasan watak dan pembawaannya tersimpan hati yang sangat penyayang. Hutan di mana mereka bermukim sangat dijaga oleh Bangkuro dengan berbagai peraturan. Tidak ada yang boleh dirusak dan diganggu jika tidak dibutuhkan. Hewan buruan ditangkap sekedar untuk dimakan, bukan untuk kesenangan. Ia pun menggalakkan bercocok tanam kepada rakyatnya. Bukan hanya menggantungkan hidup kepada alam seperti yang selama ini mereka lakukan.
Jurang Perdamaian, Abu Syuhada
Watak tokoh ”Bangkuro” dalam penggalan cerita di atas adalah berwatak keras dan hatinya penyayang.
b.           Badannya sedang, tak gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang jernih dan tenang, berbayang, bahwa ia seorang yang lurus, tetapi keras hati; tak mudah dibantah, barang sesuatu maksudnya. Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak seorang yang mampu dan tertib sopannya, menyatakan ia anak seorang yang berbangsa tinggi.
Siti Nurbaya, Marah Rusli
Watak tokoh ”ia” dalam penggalan cerita di atas adalah lurus (jujur)  dan  keras hati.
(2) Penggambaran Tidak Langsung
       Penggambaran watak tokoh secara tak langsung maksudnya pembaca menafsirkan sendiri watak tokoh. Watak tokoh ditafsirkan berdasarkan: (1) fisik tokoh, (2) dialog antartokoh, (3) tanggapan tokoh lain, (4) lingkungan tokoh, (5) tindakan/perbuatan tokoh, (6) pikiran tokoh.
a.    Dialog antartokoh
Yaitu pembaca dapat mengetahui watak tokoh dari pembicaraan tokoh dengan orang lain. Bagaimana tokoh itu berbicara, apa isi pembicaraannya dengan tokoh lain, menggambarkan watak si tokoh.
Contoh:
     ”Aku tidak peduli! Pokoknya hari ini, malam ini, detik ini juga kalian angkat kaki dari rumah ini!” Sang juragan menatap Adi dan ibunya dengan mata penuh api.
     ”Juragan, kasihanilah kami. Beri waktu seminggu lagi, kami akan segera lunasi uang kontrakan,”  ibu memandang sang juragan dengan air mata berlinang.
Dari penggalan cerita di atas, dari apa yang ia ucapkan kita tahu sang juragan adalah seorang yang berwatak bengis dan tak punya rasa kemanusiaan.
b.    Tanggapan (ucapan) tokoh lain
     Yaitu pembaca dapat mengetahui watak tokoh dari tanggapan yang dilontarkan oleh tokoh lain dalam cerita.
Contoh:
     ”Ada masalah apa antara kau dan Leni, Meri?” tanya Mak suatu malam.
     ”Itulah, Mak. Aku memang tak senang dengan dia. Dia tak bisa menyimpan rahasia. Mulutnya ember, bocor, tak ada remnya. Aku sudah bilang, tolong jangan cerita pada orang lain. Eh, barus sehari udah banyak orang yang tahu.”
Dari penggalan cerita di atas, berdasarkan ucapan Meri, watak Leni adalah tidak bisa menyimpan rahasia.
c.    Perbuatan tokoh
Yaitu pembaca bisa menentukan watak tokoh dari apa yang dilakukan tokoh tersebut.
Contoh:
     Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka,melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..
     Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Watak Rafli adalah setia kepada istrinya.
d.   Pikiran tokoh
Yaitu pembaca bisa menentukan watak tokoh dari apa yang dipikirkan tokoh tersebut.
Contoh:
     Sampai jauh malam Iyen masih terjaga. Ia terus menguatkan hati. Ia tak boleh merasa lemah oleh masalah dan kesulitan. Ia harus terus melangkah  maju. Kehidupan serba sulit yang saat ini ditanggungkan keluarganya harus ia ubah. Iyen yakin, dengan cara sekolah setinggi-tingginya kemiskinan yang membalut keluarganya bisa ia lawan.
Watak Iyen yang tidak suka berputus asa tergambar dari pikiran tokoh Iyen di atas.
B.  Sudut Pandang
  Sudut pandang adalah posisi penulis dalam cerita. Hanya ada dua sudut pandang, yaitu:
1.    Sudut pandang orang pertama
      Artinya penulis terlibat dalam cerita, ditandai dengan adanya seorang tokoh yang bernama “Aku”.
     Terbagi dua:
a.    Orang pertama pelaku utama
Penulis, si ”Aku”, adalah tokoh utama dalam cerita. Cerita tersebut adalah peristiwa yang menimpa penulis.
Contoh:
Mak memandangku dengan mata penuh kasihan dan sayang. Aku lebih kasihan lagi pada Mak. Membesarkan lima orang anak sendirian bukan pekerjaan mudah. Aku ingin membantu meringankan beban Mak. Separuh hari sekolah, separuh hari berkuli. Kalau libur, sepanjang hari aku berkuli.
Aku ingin membahagiakan Mak. Itu citaku.
”Biarlah Adi belajar tentang pahitnya hidup, Mak. Mungkin berguna nanti.”
”Tapi Mak  kasihan. Pulang kerja kamu terkapar keletihan. Lagian, nanti belajarmu terganggu.”
”Percayalah pada Adi, Mak. Adi tidak akan mengecewakan Mak. Insyaallah.”
Mak diam. Itu kalimat pamungkasku. Suara hatiku yang paling dalam. Mak selalu terdiam kalau mendengar kalimat itu.
                                                               Anjing, karya Abu Syuhada
b.    Orang pertama pelaku sampingan
Penulis, si ”Aku”, bukan tokoh utama, tapi tokoh sampingan dalam cerita. Cerita tersebut adalah pengalaman teman, sahabat, saudara, dll. dari penulis yang penulis— si Aku —ikut terlibat dalam peristiwa cerita.
Contoh:
       Mata Adi menatapku dalam. Aku melihat derita yang sangat pedih di mata itu.
       ”Aku akan membalaskan apa yang telah mereka lakukan pada keluargaku.”
       ”Sabarlah, Di. Sehatkanlah dulu badanmu.”
       ”Terima kasih, Can. Kau sangat banyak membantuku.”
       Adi langsung bangkit dari duduknya. Dengan agak sempoyongan ia berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum menutup pintu, ia menoleh kepadaku sebagai tanda meminta izin pulang. Aku mengangguk.
Entah apa yang akan terjadi esok. Adi pasti mencari siapa orang yang telah membantai seluruh anggota keluarganya.
2.    Sudut pandang orang ketiga
     Artinya penulis berada di luar cerita; tidak ada tokoh yang bernama “Aku”.
Terbagi dua:
a.    Orang ketiga terarah
Penulis fokus pada menggali isi pikiran dan perasaan dari tokoh utama. Tokoh-tokoh lain tampak diabaikan, tidak terlalu diungkap pikiran dan perasaannya.
Contoh:
       Rasa tak tertanggungkan lagi oleh Alim konflik rumah tangganya kali ini. Rumah tangganya seperti di ambang keruntuhan. Semua pihak yang terkait sudah tak punya lagi stok kesabaran yang bisa mendinginkan situasi. Suasana selalu panas. Pertengkaran sambung menyambung setiap kedua pihak  bertemu.
“Seperti tak ada jalan keluar lagi,” kata Alim seperti kepada dirinya sendiri.  Alim memandang Fatah, sahabat karibnya.  Matanya jelas menampakkan kekisruhan yang sangat. Matanya terlihat sayu ketika memandang Fatah.
       “Alim, Allah yang memberi masalah dan mintalah pertolongan pada-Nya jalan keluar,” kata Fatah.
       Secercah cahaya berkilat di mata Alim. Ia seperti tersiram air sejuk pegunungan Sibayak.  Apa yang diucapkan Fatah benar. Ia telah melupakan Sang Pemberi Masalah. Mengapa ia tak bertanya kepada Yang memberi masalah ini kepadanya. Tentu Yang memberi masalah tahu jawabannya. Alim beristighfar sebanyak-banyaknya dalam hatinya. Ah, alangkah telah jauh aku darimu Ya Allah.
b.    Orang ketiga serbatahu
Penulis serbatahu apa yang dipikirkan dan dirasakan seluruh—sebagian besar—dari tokoh-tokoh dalam cerita. Sebagian besar tokoh cerita ia ungkap pikiran dan perasaannya.
Contoh:
       ”Kembalikan saja semua yang telah kauambil,” kata Ustad Imran memandang Dodi tenang. Ustad Imran tahu bahwa Dodi harus diberi ketenangan. Ketenangan ini akan memberi kekuatan kepadanya. Masalah yang dihadapinya bukan masalah yang ringan. Berat, sangat berat.
       Dodi sangat galau. Wajahnya kusut, dahinya berkerut penuh lipatan. Sedang terjadi pertarungan batin yang luar biasa di dalam dadanya. Dadanya serasa mau pecah, dan kepalanya seakan mau berkeping-keping.  Ia harus mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya untuk mengakui perbuatan salahnya dan mengembalikan hasilnya.

Unsur Ekstrinsik Cerita (Cerpen/Novel)

Unsur ekstrinsik yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam cerita. Nilai-nilai itu antara lain: nilai agama, nilai moral, nilai sosial, nilai budaya.
1.    Nilai Agama
Nilai agama yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan aturan/ajaran yang bersumber dari agama tertentu.
Contoh:
Ahim memperlama sujudnya. Ia banyak meminta di  tiap sujud karena sujud adalah saat dikabulkannya doa. Ia dengan sepenuh hati meminta kepada Allah agar dimudahkan menghadapi ujian nasional esok. Ahim telah mempersiapkan diri secara maksimal, tetapi ia yakin apa yang akan ia dapat adalah apa yang akan Ia karuniakan kepadanya.
Nilai agama yang terkandung dalam penggalan cerita di atas adalah meminta kepada Allah saat sujud dalam salat.
2.    Nilai Moral
       Nilai moral yaitu nilai-nilai dalam cerita yang berkaitan dengan akhlak/perangai atau etika. Nilai moral dalam cerita bisa jadi nilai moral yang baik, bisa pula nilai moral yang buruk/jelek.
Contoh:
Amak menatap orang itu dengan nanar. Apa yang diucapkan oleh mulut perempuan itu seperti sekeranjang sampah yang sudah sangat membusuk. Ini hal baru bagi Amak.
“Kau kerja di sini harus izin dulu, tak bisa sekehendak perutmu!”
Perempuan itu sudah paruh baya. Buruknya isi lidahnya mengimbas kepada keburukan wajahnya.
Nilai moral yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah nilai moral yang jelek, yaitu seorang perempuan yang sangat kasar mulutnya pada orang lain.
Adi mengangkat tubuh Haikal ke pundaknya. Hah…berat juga, katanya dalam hati. Ia berjalan pelan menuruni bukit. Ia harus segera tiba di perkampungan terdekat agar nyawa sahabatnya ini bisa diselamatkan. Gigitan ular berbisa di tempat mereka berkemah semalam, tampak membuat kaki kanan Haikal membiru kehitaman.
Nilai moral yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah nilai moral yang baik, yaitu kesetiaan seorang sahabat yang berjuang menyelamatkan nyawa sahabatnya.
3.    Nilai Budaya
       Nilai budaya adalah nilai-nilai yang berkenaan dengan kebiasaan/tradisi/adat-istiadat yang berlaku pada suatu daerah.
Contoh:
Pusing kepala Inop sekarang. Rasanya tumbuh sebuah uban sehari di kepalanya. Ke mana hendak dicarikannya uang tiga juta rupiah untuk diserahkan kepada keluarga calon mertuanya. Uang itu akan digunakan sebagai pengisi sudut namanya, suatu istilah untuk menamakan pemberian pihak calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Mak?” tanya Inop agak melotot kepada Amaknya.
“Kau sudah aku bilang, tak usah buru-buru kawin. Ka babini seperti orang sasak cirik sajo. Kini aden juo yang susah!” jawab Mak marah.
Sekarang bukan satu, tiga puluh tiga uban sehari bertunas di kepala Inop.
Nilai budaya yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah kebiasaan di suatu tempat di Ranah Minang, pihak calon mempelai laki-laki memberi sesuatu kepada pihak keluarga calon mempelai perempuan.
4.      Nilai Sosial
       Nilai sosial yaitu nilai-nilai yang berkenaan dengan tata pergaulan antara individu dalam masyarakat.
Contoh:
Semua bersedih. Langit pun tampak mendung, seakan ikut bersedih. Jenazah Yuda terbaring kaku di ruang depan. Masyarakat datang berbondong-bondong memenuhi rumah duka. Mereka ikut kehilangan seseorang yang selama ini dikenal sangat rajin mengurus mesjid, ramah, dan ringan tangan dalam memberi bantuan. Sebagian masyarakat sudah berangkat ke pemakaman untuk menggali kuburan, dan mempersiapkan pemakaman.
Nilai sosial yang terdapat dalam penggalan cerita di atas adalah masyarakat yang dengan suka rela menjenguk orang yang kemalangan dan bergotong royong mempersiapkan pemakaman.
Latihan
1.         Yuli menghapus air mata yang datang tanpa diundang. Tak ada lagi yang perlu ditangisi. Semua sudah takdir. Keempat buah hati yang masih kecil itu akan memberinya kekuatan menjalani hidup selanjutnya.
     “Ibu, kenapa ayah ditimbun pakai tanah?” tanya Nisa si kecil. Ia belum mengerti apa yang terjadi pada ayahnya.
     Yuli memeluk Nisa. Tentu akan berat membesarkan empat orang anak seorang diri. Tapi, ia akan jalani itu demi cintanya kepada buah hatinya. Allah tak akan membebani melebihi kemampuan hamba-Nya.
     “Ayah capek, Nak. Ayah harus banyak beristirahat.”
Nilai yang terkandung dalam penggalan cerita di atas adalah ….
2.         “Apa saja yang kaulakukan sehari ini?” Yono menatap anaknya tajam.
     Pujo diam membatu.
     “Sudah berapa ratus kali ayah bilang kepadamu, kamu harus menyelesaikan tugas-tugasmu membantu ibumu. Kalau tidak beres, tidak akan akan uang jajan, tidak akan boleh pergi bermain lagi. Mengerti? Paham?”
     Pujo diam membatu.
Nilai yang terkandung dalam penggalan cerita di atas adalah ….
3.         Alim telah selesai. Ia duduk lama di tepi lubang yang baru digalinya. Orang tak akan payah lagi menggalikan kuburan untuknya karena pekerjaan itu telah ia selesaikan hari ini.
Tiap hari Alim datang mengunjungi kuburnya. Selalu dia duduk merenung lama sekali. Lebih sering ia menangis. Menangis mengingat dosa-dosanya yang teramat banyak. Menangis mengingat alangkah malang nasibnya di alam barzah, di hari perhitungan kelak. Tentu ia akan merasakan azab yang amat pedih dari Allah atas dosa-dosanya selama di dunia ini. Bukankah melalaikan salat adalah kebiasaannya. Puasa, sedekah, membaca Alquran, menjaga silaturahmi adalah pekerjaan yang amat berat baginya.
Nilai yang terkandung dalam penggalan cerita di atas adalah ….
4.         Acara pesta telah ditentukan waktunya. Pesta pernikahan Ali dan Ina. Para pemuda tampak sibuk mendirikan pentas tempat pertunjukan untuk menghibur tamu. Hiburan akan diisi rebab Pesisir Selatan. Ibu-ibu sibuk di dapur. Mereka memasak gulai cubadak sebagai hidangan khas orang baralek.
Nilai yang terkandung dalam penggalan cerita di atas adalah ….
5.         “Aku susah kali bangun jam dua pagi.”
     “Ya, paksakanlah.”
     “Seperti apa sih karnaval rakyat nanti malam.”
     “Pokoknya luar biasa.”
     Abiq memaksakan dirinya tetap bangun hingga pukul dua pagi agar bisa menononton pesta rakyat yang dikatakan Ipul. Ternyata, memang luar biasa. Pukul dua yang di hari biasa Kota Kuala Tungkal sepi, malam ini dipenuhi manusia. Jalan utama kota disesaki iring-iringan orang dengan berbagai kostum, bermacam alat musik, beraneka kendaraan hias yang berbaris rapi.
Thanks for coming on the blog Like Shared